VNR 2021 The Inclusion of Gender

Istilah “Planet 50:50” dapat diterapkan di Indonesia sebagai “Indonesia 50:50” mengingat komposisi laki-laki dan perempuan yang hampir sama, yaitu 50% dan 50%. Dengan rasio jenis kelamin berdasarkan Sensus Penduduk 2020 sebesar 102, diharapkan perempuan dan laki-laki memiliki peran bersama dan terlibat dalam pembangunan. Jika salah satu pihak tertinggal, baik laki-laki maupun perempuan, dalam pembangunan berarti tertinggal 50% dari jumlah penduduk dan ini akan menjadi faktor pengurang dalam mencapai tujuan pembangunan.

Ketidakseimbangan atau ketimpangan gender adalah APKM atau ketimpangan akses (A) dalam, atau peluang antara laki-laki dan perempuan untuk memperoleh sumber daya dalam pembangunan, sehingga berdampak pada keseimbangan partisipasi (P) dan kontrol (K) masing-masing, menyebabkan perbedaan antara keduanya dalam memperoleh manfaat (M) dari hasil pembangunan. Upaya pemberantasan, atau paling tidak mengurangi ketimpangan gender dalam APKM telah dilakukan untuk mencapai kesetaraan atau keadilan gender.

Untuk itu, pemerintah menggunakan pendekatan pengarusutamaan gender (PUG) melalui INPRES No. 9 Tahun 2000. Pada setiap tahapan pembangunan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pengelolaan sampai pada tahap pemantauan dan evaluasi, kepentingan, aspirasi dan kondisi laki-laki dan perempuan harus terintegrasi. Setidaknya ada dua isu mendesak yang menjadi tujuan dalam pendekatan ini, pertama dan terutama, bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama menentukan kebijakan dan kedua sama-sama diuntungkan dari hasil pembangunan.

Meskipun laporan tersebut dimaksudkan untuk mendukung penyusunan dan penyusunan laporan VNR Indonesia 2021, namun diharapkan dapat menggambarkan perkembangan sebagian kecil APKM di beberapa target penting untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB atau SDGs) setelah sekitar 15 tahun PUG telah diluncurkan. Tren data yang dibahas terkait perempuan kepala keluarga dan jumlah penduduk perempuan dibandingkan laki-laki pada isu yang sama dari 2015/2016 hingga 2020. Analisis perbedaan berbasis gender akibat dampak Covid-19 juga dibahas.