Mengapa Siklus Menstruasi Tidak Teratur?

Wanita dan Siklus Menstruasinya

Zahrotun Nafisah Ahmad

Menurut Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI, sebanyak 13,7% wanita berusia 10-59 tahun di Indonesia mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur. Periode menstruasi bisa berlangsung 2 sampai 7 hari dan terjadi dalam siklus 24 sampai 38 hari. Meskipun demikian, setiap wanita mempunyai karakteristik siklus menstruasinya masing-masing. Menstruasi bisa dijadikan indikator penting yang menunjukkan kesehatan organ reproduksi wanita. Wanita dengan menstruasi yang tidak teratur bisa menjadi penanda adanya masalah kesehatan tertentu. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa hormon adalah pelaku utama yang menyebabkan tidak teraturnya menstruasi.

Ciri-ciri menstruasi yang tidak teratur :

  • Amenorrhea: wanita yang belum pernah menstruasi saat sudah berumur 16 tahun atau wanita yang tidak menstruasi selama 3 bulan berturut-turut tanpa hamil.
  • Oligomenorrhea: siklus menstruasi lebih dari 35 hari atau wanita yang hanya memiliki kurang dari sembilan periode menstruasi dalam satu tahun.
  • Menorrhagia : pendarahan menstruasi yang berlebihan, lebih dari 80 cc dalam sehari.
  • Dysmenorrhea : nyeri atau kram perut bagian bawah yang berlebihan.
  • Polymenorrhea: siklus menstruasi yang kurang dari 21 hari.
  • Spotting: keluarnya bercak darah pada masa di antara dua periode menstruasi.
  • Periode menstruasi kurang dari dua hari atau lebih dari 20 hari.

Penyebab menstruasi yang tidak teratur, di antaranya :

  1. Merokok: perokok dan mantan perokok mempunyai resiko 1,2 kali lebih tinggi untuk mengalami menstruasi yang tidak teratur daripada non-perokok. Studi lebih lanjut menunjukkan bahwa merokok dapat menurunkan kadar esterogen wanita secara drastis dan meningkatkan resiko menopause dini .
  2. Obesitas: wanita dengan BMI >27 beresiko 18,48 kali lebih tinggi mengalami menstruasi yang tidak teratur. Wanita dengan BMI yang tinggi mempunyai kadar SHBG (Sex Hormone Binding Globuline) yang rendah serta kadar testosteron, FAI (Free Androgen Index), dan insulin yang tinggi.
  3. Stres: 696 wanita berusia 20-40 tahun mengalami menstruasi yang tidak teratur akibat stres. Stres dapat menurunkan kadar LH (Luteinising Hormone) dan FSH (Follicle Stimulating Hormone) yang berdampak pada menurunnya fungsi ovarium w

Penyebab lain, di antaranya :

  1. Penggunaan alat kontrasepsi
  2. Polycystic Ovary Syndrome (PCOS)
  3. Kehamilan atau menyusui
  4. Fibroid Rahim
  5. Penebalan lapisan rahim akibat polip

Tindakan yang umum dilakukan apabila siklus menstruasi yang tidak teratur dan mulai mengganggu adalah dengan mengubah pola hidup yang kurang sehat. Menjalani pola hidup sehat dapat dimulai dengan rutin berolahraga dan makan teratur, minum yang cukup, serta tidur yang cukup. Pola hidup sehat bukan hanya dapat menghindarkan seseorang dari stres, namun juga dapat memungkinkan seseorang mengontrol berat badannya dengan baik. Jika siklus menstruasi yang tidak teratur diduga berasal dari penggunaan alat kontrasepsi, maka mengganti alat kontrasepsi bisa menjadi solusi. Selain itu, konsultasi dengan dokter bisa dilakukan  untuk mendapatkan diagnosa yang tepat terkait masalah kesehatan reproduksi.

 

Baca lebih lanjut :

Palm-Fischbacher S, Ehlert U. Dispositional resilience as a moderator of the relationship between chronic stress and irregular menstrual cycle. J Psychosom Obstet Gynaecol. 2014;35:42–50.

Mishra GD, Dobson AJ, Schofield MJ. Cigarette smoking, menstrual symptoms and miscarriage among young women. Aust N Z J Public Health. 2000;24:413–20.

MacMahon B, Trichopoulos D, Cole P, Brown J. Cigarette smoking and urinary estrogens. N Engl J Med. 1982;307:1062–5.

Jinju Bae, Susan Park, Jin-Won Kwon. Factors associated with menstrual cycle irregularity and menopause. BMC Women’s Health. 2018;18:36.

Dobson H, Ghuman S, Prabhakar S, Smith R. A conceptual model of the influence of stress on female reproduction. Reproduction 2003;125:151–63

Kementerian Kesehatan RI. 2010. Riset Kesehatan Dasar (RiKesDas) 2010. Jakarta. Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Kesehatan.

webmd.com/women/why-is-my-period-so-random